03
Apr
08

Intellegences…?

Albert Bandura dengan teori pembelajaran observasionalnya mengemukakan proses belajar melalui model prilaku yang dirangsangkan pada anak sebagai contoh perilaku. Kuatnya pembelajaran peniruan (imitasi) ini dapat segera dibuktikan ketika di rumah peran orang tua diamati anak-anak mereka dan memberikan referensi perilaku bagi mereka yang segera mereka tiru, misalnya ayah yang agresif mungkin berhasil menjadi model perilaku yang mirip pada anaknya atau sama halnya dengan peran guru di taman kanak-kanak dimana guru menjadi model yang sangat bermakna untuk pembelajaran observasional selama aktivitas bermain.

Proses peniruan tersebut akan terkukuhkan dan lebih efektif pada saat-saat orang tua dan guru menerapkan hukuman dan pujian bagi perilaku-perilaku yang sesuai ataupun tidak sesuai dengan kecenderungan yang diinginkan orang tua dan guru. Peran dan pengaruh orang tua dan guru menjadi penting bagi anak sebab mereka merupakan gerbang yang akan mengatarkan mereka kepada kehidupan sosial, selain itu proses imitatif juga terpapar selama anak-anak berada dalam kelompok sebayanya dalam hal ini tentu saja peran kolektif yang dimainkan bersama-sama seolah-olah merupakan hasil sintesa berbagai perilaku awal yang orisinal dimana setelah terjadi interaksi, komunikasi sosial dan transaksi perilaku masing-masing anak memperoleh referensi perilaku baru.

Potensi Kecerdasan Anak

Seorang individu dikatakan memiliki mutu atau kualitas Sumber Daya Manusia yang unggul diukur dari bagaimanakah kemampuannya dalam mengatasi tantangan dan permasalahannya dengan mengunakan totalitas perangkat fisik, mental dan spiritual yang sedianya terdapat dalam diri semua orang. Kemampuan untuk mendayagunakan segenap potensi tersebutlah yang lazim dikenal sebagai suatu kecerdasan.

“Manusia dikaruniai kecerdasan yang berbeda-beda satu dengan yang lain agar bisa saling bekerja sama dan melengkapi” — Anita Lie.

Howard Gardner menyimpulkan bahwa manusia memiliki berbagai macam kecerdasan (Multiple Intelegent) antara lain; kecerdasan musical, bodily, visual spatial, logical,verbal, intrapersonal dan interpersonal. Bahkan belakangan ini konsep kecerdasan yang dimiliki manusia dikembangkan lagi ke dalam bentuk kecerdasan Emosional dan Spiritual (Gardner, Howard., Multiple Intelegences, Interaksara , Jakarta, 2003).

Kecerdasan musikal, merupakan kecerdasan yang paling awal tumbuh dalam diri manusia, detak jantung, denyut nadi suara pencernaan dalam rahim ibu merupakan materi awal yang diterima seorang anak dalam menumbuhkan kecerdasan musikalnya. Kecerdasan musikal mempunyai pengaruh yang sangat besar pada perasaan manusia.

Kecerdasan gerak tubuh (bodily), kecerdasan ini memungkinkan koordinasi antara otak dan tubuh manusia. Manfaat optimalisasi kecerdasan ini dirasakan seseorang tidak hanya dalam menunjag aktivitas sehari-hari akan tetapi seseorang dapat menghasilkan keterampilan tubuh yang luar biasa seperti contoh yang dilakukan oleh para atlet, penari, akrobator, yogist dan lain sebagainya.

Kecerdasan visual spatial, kemampuan untuk memahami dan menguasasi relasi benda dalam ruang serta visualisasi grafis dan manipulasi mental terhadap benda-benda. Bagian penting dari kecerdasan ini adalah daya imajinasi dan visualisasi.

Kecerdasan logikal, kecerdasan yang memungkinkan manusia melakukan perhitungan, pengukuran, pemikiran induktif dan deduktif serta mengenali pola-pola abstrak. Kecerdasan ini telah tumbauh dalam diri manusia sejak dini pada proses perkembangan manusia sebab sejak awal seseorang melakukan pengenalan bentuk dan pola kemudian berkembang dalam memahami pola-pola pemikiran logis dan abstrak.
Kecerdasan liguistik, merupakan kemampuan seseorang untuk mengunakan sistem bahasa dalam berkomunikasi yang mencakupi kemampuan mendengar, membaca, menulis dan bercakap-cakap.

Kecerdasan intrapersonal, merupakan kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan mengamati diri dari luar diri. Kecerdasan intrapersonal membangun kesadaran akan diri sendiri mengenai perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran dan kecenderungan perilaku lainnya. Kecerdasan interpersonal, adalah kemampuan seseorang untuk memahami perasaan, suasana hati, keinginan dan temperamen orang lain. Kecerdasan ini bermanfaat dalam rangka menciptakan suatu sinergi atau kerjasama dengan orang lain.

Kecerdasan spiritual, merupakan kepekaan dan kemampuan untuk memahami kebedaraan dirinya sendiri (eksistensi) dan relasinya dengan Sang Pencipta. Pemahaman dan pemaknaan terhadap kehidupan, terhadap tujuan hidup, kebaikan dan lain sebagainya merupakan bagian dari kecerdasan ini.

Kecerdasan emosional, tercakup dalam kecerdasan intrapersonal dan interpersonal.

Dari berbagai bentuk kecerdasan tersebut di atas – untuk kepentingan pelatihan Pengembangan Potensi Intelektual (POINT) Anak – disimpulkan ke dalam 4 (empat) bentuk kecerdasan yaitu kecerdasan intelectual, Phisical, Emotional dan Spiritual, sehingganya dalam rancangan Pelatihan Dasar 5 Kecakapan Siswa ini dimulai dari pendayagunaan perangkat (tools) kecerdasan yaitu ; Tubuh (Body), Pikiran (Mind), Emosi (Emotion), dan Jiwa spiritual (Soul), serta kecakapan sosial. Yang kemudian dikemas dengan konsep pengajaran dan pembelajaran berbasis kompetensi dan berdasarkan kebutuhan kelompok usia yang menjadi target pelatihan pembelajaran bertumpu pada konsep pembelajaran penemuan (discovery learning) dan pembelajaran berprogram (programmed learning). Kolaborasi kedua konsep tersebut diharapkan memberikan optimalisasi hasil dari kegiatan belajar bagi peserta dimana peserta dapat memperoleh informasi baru, mampu mengelola informasi tersebut dan pada akhirnya menjadi ikhtisar pengetahuan dan ketrampilan baru bagi peserta.

Adapun optimalisasi yang ingin dicapai berdiri dalam kerangka 5 macam kecakapan hidup (life skill) yang harus dimiliki, kelima kecakapan tersebut adalah : learning how to think, learning how to do, learning how to be, learning how to learn dan learning how to life together.

Learning how to think, merupakan kecakapan yang berkenaan dengan kemampuan seseorang untuk berfikir dengan cara yang benar (cakap berfikir).

Learning how to do, kecakapan untuk berbuat atau bertindak. Kecakapan ini memungkinkan seseorang bertindak secara proporsional pada saat dan tempat yang tepat.

Learning how to be, merupakan kecakapan yang lahir dari kecerdasan intrapersonal, dimana dalam memahami diri sendiri seseorang mampu menempatkan diri dan berbuat dalam kehidupannya.

Learning how to learn, kemapuan seseorang untuk mempelajari, mengelola informasi dan menyimpulkannya sehingga baginya dapat bermanfaat dalam kehidupannya.

Learning how to life together, kecakapan untuk hidup bersama secara berdampingan secara positif dan kemampuan bersinergi dalam kerjasama untuk tujuan-tujuan produktif bagi dirinya.

Adapun kecakapan itu sendiri merupakan wujud ekstrinsik dari kecerdasan seseorang, kecakapan dapat diamati sebagai perilaku yang positif dan produktif (terlepas dari nilai-nilai). Artinya antara kecerdasan dan kecakapan dapat dikatakan memiliki keterhubungan yang erat (kausalitas) dimana yang satu sebagai sebab bagi dan manifestasi lahiriah yang lain – kecakapan dilandasi oleh kecerdasan.

Strategi Pengembangan

Potensi kecerdasan yang dimiliki seseorang tumbuh dan berkembang seiring pertumbuhannya sebagai manusia yang tidak lepas dari keterkaitan faktor internal dan eksternal. Setiap orang dapat mengembangkan semua kecerdasan sampai pada tingkat kemampuan yang mumpuni. Terkadang kita cenderung mengatakan untuk seseorang tertentu dia memiliki kecerdasan yang kuat dan untuk yang lain memiliki kecerdasan yang lemah. Pada dasarnya potensi kecerdasan seseorang secara keseluruhan dapat dikembangkan sehingga kecerdasan seseorang yang lemah dapat menjadi kuat asalkan diberi kesempatan untuk dikembangkan.

Menurut Thomas Armstrong kecerdasan dapat berkembang atau tidak tergantung pada tiga faktor penting, seperti ; faktor biologis, sejarah hidup pribadi, latar belakang kultural dan historis. Secara biologis termasuk di dalamnya faktor genetis, luka atau cidera pada otak sebelum, selama atau setelah kelahiran. Sejarah hidup seseorang turut menentukan dimana pengalaman – pengalaman yang pernah dialami memiliki pengaruh dalam membangkitkan maupun menghambat perkembangan kecerdasan termasuk di dalamnya pengalaman bersama orang tua, guru, teman sebaya, dan orang lain di sekitarnya sedangkan latar belakang kultural dan historis mempengaruhi berdasarkan sifat dan kondisi perkembangan waktu dan tempat yang spesifik.

Pengembangan kecerdasan seseorang juga tidak lepas dari faktor pendorong (crystallizing experience) dan penghambat (paralyzing experience). Faktor penghambat merupakan pengalaman yang mematikan kecerdasan, hal ini dapat terjadi dimasa perkembangan dimana seseorang seringkali pada saat mengungkapkan atau mengekspresikan kemampuannya acap kali direspon secara negatif, proses afirmasi negatif ini secara serta merta mempengaruhi mentalitas seseorang sehingga diterima sebagai suatu perasaan malu, rasa bersalah, takut, kemarahan dan emosi negatif lainnya yang pada akhirnya melembaga sebagai pengalaman yang melumpuhkan kecerdasan. Sementara itu pengalaman yang mendorong (crystallizing experience) adalah titik balik dalam perkembangan bakat dan kemampuan orang yang terjadi pada awal masa kanak-kanak maupun sepanjang hidup. Dorongan dapat berupa berupa pengukuhan dan apresiasi positif atas kemampuan yang dimiliki (Armstrong, Thomas, Sekolah Para Juara, Kaifa, Jakarta, 2002, hal, 23 s/d 38).
Melihat berbagai faktor di atas sudah barang tentu konsep pengembangan kecerdasan diterapkan dengan semaksimal mungkin dengan menyediakan ruang kreasi yang luas kepada anak sembari memberikan pengukuhan sebagai suatu bagian pembentukan afirmasi positif bagi anak untuk terus menyadari dan mengelola potensi kecerdasannya.

Selanjutnya wadah pendidikan atau pengajaran seperti apakah yang tepat untuk pengembangan kecerdasan dan kemampuan (skill) anak ?, sudah barang tentu berbagai metode pendidikan telah dikembangkan akan tetapi negara selaku penyelenggara sekaligus penanggungjawab pendidikan masih begitu yakin dengan pedagogi verbal dengan pendekatan guru-sentris tradisional, namun saat ini jalan yang mengarah pada pembaharuan proses pendidikan terbuka dengan demikian luasnya sehingga berbagai macam pembaharuan yang digagas para ilmuan menemukan momennya, ambil contoh apa yang dikembangkan Maria Montessori dimana sistem pengajaran didasarkan pada teknik-teknik mengalami langsung (experience) dengan memberdayakan kesemua potensi bentuk kecerdasan anak dan materi-materi ajar pun disesuaikan dengan tingkat laju belajar anak (self-paced material).

Dalam proses pendidikan dan pengajaran yang bertujuan untuk mengembangkan seluruh potensi kecerdasan anak tidak harus menafikan metode pedagogi verbal, ia tetap diperlukan sebagai fungsi instruktif yang akan memfasilitasi peserta didik dalam artian peran seorang guru amat diperlukan akan tetapi paradigmanya yang harus digeser dari guru-sentris menjadi murid-sentris.

(Sumber: http://www.michel-elqudsi.com/artikel-07c.html)


0 Responses to “Intellegences…?”



  1. No Comments Yet

Leave a Reply