03
Apr
08

Azrul Ananda’s creation…

 Azrul_pic

26-Feb-2008
Mengapa DBL?
Oleh: Azrul Ananda

(Tulisan ini dimuat di Jawa Pos pada Sabtu 17 Juli 2004)

Mengapa DetEksi Basketball League alias DBL? harus digelar? Apa gunanya buat para peserta, yang jumlahnya mencapai 95 tim, melibatkan lebih dari 2.500 anak SMA di Surabaya dan sekitarnya?

Pertama karena prestasi Indonesia dalam hal bola basket sangat memprihatinkan. Bahkan, di Asia Tenggara pun belum masuk hitungan. Ha ha ha..

Kedua, karena di dalam badan yang sehat, terdapat jiwa yang sehat pula. Ho ho ho…

Ketiga, untuk mengisi liburan sekolah, biar anak-anak tidak melakukan hal-hal yang negatif. Hi hi hi…

***

Bukan, bukan itu tujuan utama digelarnya DBL?. Ketiga alasan di atas baik semua, dan kalau itu digunakan untuk menjawab pertanyaan PPKn, Anda bakal mendapat nilai sepuluh.

Alasan dilangsungkannya basket antarsekolah ini tidak semuluk itu. Ya, mungkin nantinya sampai ke sana. Tapi itu jauuuuuuuuuh di sana.

Alasannya tidak tinggi di langit, melainkan rendah di tanah. Ketika technical meeting dulu, saya selalu ingatkan bahwa DBL? ini juga bukan hanya untuk menang-menangan, bukan hanya untuk jaga gengsi antarsekolah.

Hebatnya pertandingan bukan selling point. Pemain bintang bukanlah tontonan utama. Banyaknya penonton, juga tidak penting. Bahkan, saya dan kru DetEksi yang lain (yang hebat-hebat) sudah memikirkan bahwa tidak ada penonton justru lebih baik. Karena tanpa penonton, semua pertandingan (yang jumlahnya ratusan) bisa berjalan lebih lancar dan cepat.

Apa yang penting? Fun dan experience. Tidak muluk-muluk. Karena kalau targetnya jauh di langit, orang jadi memikirkan betapa jauhnya jarak yang memisahkan, dan itu membuat mereka enggan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk ke puncak.

Kalau targetnya rendah di darat. Makin banyak orang bisa mencobanya. Dan, semakin banyak orang bisa merasakannya, nantinya semakin banyak pula yang tahu-tahu sudah sampai di langit.

***

Jujur saja, idenya dari Amerika, sudah dipendam sejak lama. Betapa enaknya jadi anak SMA di sana. Pertandingan antarsekolahnya berlangsung konsisten dengan arah yang jelas. Tidak ada gangguan pihak-pihak “profesional,” yang justru bisa membuat kompetisi tidak berkembang, bahkan rusak. Benar-benar anak SMA lawan anak SMA, dengan dukungan penuh dari sekolah dan keluarga.

Bukan hanya itu. Jurnalis sekolah pun aktif di sana. Kebetulan, saya bukan atlit. Waktu SMA di Ellinwood, Kansas, dulu, saya fotografer sekolah. Asyik (fun) sekali rasanya (experience), jadi fotografer tim basket yang ikut keliling mengunjungi sekolah atau kota lawan.

Makanya, di DBL?, ratusan wartawan sekolah yang ikut berlomba memegang peranan penting. Merekalah yang menjadikan ajang ini sebagai media event. Bukan sekadar pertandingan antarsekolah (lagi pula, berapa banyak sih media beneran yang mau meliput turnamen antarsekolah? Jawa Pos saja belum tentu!).

Bayangkan nanti, kalau ada puluhan fotografer sekolah berdiri di belakang ring, memotret berbarengan pemain yang akan melakukan layup. Seperti NBA bukan?

***

Satu lagi. Dan, saya akui ini agak muluk. Tapi ini bukan target langsung DBL?, melainkan target jangka panjangnya.

Pernahkah Anda berpikir, seperti apa Surabaya lima sampai sepuluh tahun lagi? Seperti apakah interaksi antarmasyarakatnya, lima sampai sepuluh tahun lagi?

Sekarang, kelompok orang tertentu tinggal di kawasan tertentu. Kelompok lainnya terpusat di kawasan yang lain. Sekelompok anak dan kelompok tertentu itu, disekolahkan di sekolah tertentu di kawasan tertentu. Sedangkan sekelompok anak dari kelompok yang lain, disekolahkan di sekolah yang lain di kawasan yang lain pula.

Dari SD sampai SMA, bahkan perguruan tinggi, mereka nyaris tak pernah berinteraksi. Menurut saya, ini lebih dari sekadar kesenjangan ekonomi. Dan, kesenjangan ini bisa mengerikan di masa mendatang.

Orang tua anak itu mungkin memang punya opini tertentu (bisa miring dan mencibir) kepada kalangan yang berbeda. Dan sebaliknya. Tapi, apakah anaknya punya opini yang sama? I don’t think so.

Nah, DBL? (dan ajang DetEksi lain seperti DetEksi Party dan DetEksi Mading Championship) bisa menjadi jembatannya.

Kapan lagi ribuan anak dari puluhan sekolah (hampir ratusan) berkumpul dan bertemu di tempat yang sama? Kapan lagi mereka berkompetisi di ajang yang sama?

Tak banyak kesempatan untuk itu. Tak banyak kesempatan untuk saling mengenal, saling menyayang.
Tapi, itu semua jauuuuuuuuh di masa mendatang. Sekarang, mulai pembukaan DBL? sore ini. Yang penting having fun dan experience dulu saja. (*)

(Sumber: http://www.deteksibasketball.com)


7 Responses to “Azrul Ananda’s creation…”


  1. August 2, 2008 at 2:02 pm

    hehe.. Baru tau saya kalo ada artikel kaya gni,, Pak azrul emang kreatif,,meski karena negara lainn… emang sihh jarang yang mau ngusul acara sepektakul se heboh DBL, Trims pak Azrul udah mau bawa Dbl ke kota Malang.. meski diriku hanya jadi suporter.. haha.. Trimss..

  2. 2 Halim
    September 6, 2008 at 3:35 am

    Selamat dan sukses buat penyelenggaraan DBL 2008 dan DBL Coaching clinic bersama Danny Granger.
    Gak nyangka aja DBL kompetisi lokal bisa gandeng NBA,dimulai dengan datang salah satu calon bintang besar NBA. Apalagi coaching clinicnya di gedung yang baru pula.

    Sayang gw belum sempet k sana,cuma tau lewat depannya aja dan dari foto-2 d koran. Ntar klo kapan sempat gw mampir k sana, apalagi klo bisa dipandu langsung nih sama bang Azrul,OK?????? (klo gak repot).

    Apa yang dilakuin DBL patut diberi 2 jempol berdiri (tapi jangan GR dulu ya) hehehe.

  3. 3 febri
    October 6, 2008 at 7:44 am

    well…DBL emank TOP en bener2 happening bgt
    kayaknya kalo sekarang qta gag punya pikirin gimana DBL2 taon2 berikutnya
    apa tetep happening kayak sekarang
    ato karena udah terlalu semangat sekarang…semangat tu udah ilank beberapa taon lagi
    DBL jadi ‘kolaps’ dan orang ‘hanya’tahu itu DBL tanpa pernah ada DBL lagi
    ya…bukannya bikin semangat surut sih…
    tapi saya pikir itu perlu dipikirin
    jangan sampe DBL ilank
    karena menumbuhkan semangat anak muda indonesia buat ikutan acara beginian tuh gag mudah
    but…chayo buat DBL

    salam…
    satu
    jiwa
    AREMA
    hehehehe….

  4. 4 mentari
    December 5, 2008 at 8:46 am

    halo,mas Azrul!!
    apa kabar??

    aku Mentari,,
    Aku mau bilang trima kasih yang buaanyaaaak buaangeeet buat DBL sama mas Azrul,,,
    Mas Azrul dan DBL udah bikin event yang full bwd anak muda,,,

    Satu hal lagi, Aku udah nyelenggarain DBL di Irian,,,,

    Ku sebenarnya anak kelahiran Irian lhooo, pernah tinggal di Jayapura lagi…

    Jadi,aku bangga banget DBL, yang dateng kesana unyuk menyelenggarakan event basketball yang kucintai ini…

    nanti kalo’ Udah sampe Jayapura, sampaikan salam kangenku sama kota Jayapura ya mas..

    Makasih…

    MEntari ^_^

  5. 5 mentari
    December 9, 2008 at 2:24 am

    Hai mas azrul,,,

    apa kabar??

    aQ mentari dari Sidoarjo.

    kuu cuma mau bilang thannk you so much buat ams Azrul dan DBL yang budah menggelar event basketball di Papua…

    Kuu bangga ternyata Jayapura bisa ikut DBL buat tahun depan…

    Oh ya mas, aku ini sebenarnya anak Jayapura, dulu aku sempet tinggal disana, bahakan aku dilahirin di sana, tepetnya di Biak….

    Makasih ya mas Azrul…

    I LOve U DBL

  6. 6 MeNtari^_^
    January 3, 2009 at 8:19 am

    Assalamualaikum maS aZruL. . .
    Ini yg ke-3 kaLix aQ maU nyaMpeiN rasa bAnGga saMA DBL. . .
    AkhiRnYa DBL bisa nyampe JaYapuRa,,,
    suatU kebangGaan krN koTa maSa keCiLq bZ didatenGin ama DBL. . .
    Thank you ya maS,thank u DBL. . .
    SemOga DBL di sana suKses besar. . .

    MenTari^_^
    SMAN 1 TAMAN
    (bazket_is_mylife@yahoo.com)

  7. 7 ferdinandolase
    January 27, 2009 at 1:22 am

    Terima kasih atas usaha Bp. Azrul Ananda menyelenggarakan Honda DBL Cendrawasih Pos 2009 di Jayapura Pupua. Sungguh sebuah pergelaran spektakuler yang pernah di gelar di Jayapura. Namun kami mau menyampaikan beberapa saran kepada DBL Indonesia agar penyelenggaraan dikemudian hari dapat memuaskan semua pihak yang terlibat.

    1. Mengingat kebutuhan sekolah akan dokumentasi keterlibatan sekolah dalam kompetisi DBL, maka jika memungkinkan penyelenggaraan tahun depan setiap sekolah diberikan ijin untuk mengirimkan seorang fotograper (siswa). Agar lebih menantang, hasil jepretan si fotograper dilombakan dalam sebuah supporting event, jika memungkinkan disertai pula tulisan ttng liputannya. Menurut saya ini merupakan sebuah hal positif dimana DBL juga berperan dalam memacu kemampuan dan meningkatkan minat siswa dalam dunia jurnalistik.

    2. Dalam TM, sebaiknya pihak panitia juga mempertemukan tim-tim yang akan bertanding dengan para wasit. Dalam pertemuan itu para wasit dapat menyampaikan hal-hal apa yang DAPAT dan TIDAK DAPAT dilakukan oleh pemain dan official dalam sebuah pertandingan. Sehingga REJECT yang dilakukan wasit terhadap pemain seperti yang dialami oleh pamain kami Ciputra tidak terjadi.

    3. Mohon DBL mengkaji ulang kinerja wasit yang bertugas dalam final Putra DBL Papua. Kami merasa bahwa tim kami sangat dirugikan dengan diusirnya pemain kami. Padahal pemain kami tidak melakukan pelanggaran yang sangat merugikan wasit, panitia meja, maupun DBL.

    Demikian saran kami, atas perhatian dan kerjasamanya kami sampaikan terima kasih.


Leave a Reply